Adab Dulu Ilmu Kemudian


 

Beradab Sebelum Berilmu

Berilmu merupakan suatu kemulian bagi setiap insan, mencarinya (red-menuntut ilmu) adalah jalan menuju kebaikan dunia dan akhirat. Tidak bisa dipungkiri, bahwa dengan ilmu segala sesuatu bisa dicapai. Perkara dunia harus dengan ilmu, perkara akhirat yang miliki keutamaan lebih penting tentunya sangat membutuhkan ilmu. Dengan ilmu, Allah Rabb semesta alam disembah, dengannya perkara duniawi bisa terselesaikan. Dengannya, Allah Swt mengangkat derajat orang beriman dan berilmu,

(يرفع الله الذي آمنوا منكم والذين أتوا العلم درجات) المجادلة : 11

“Allah mengangkatderajat orang yang beriman dan oarang yangberilmudiantara kalian beberapa derajat (dari orang selain kalian)”. (QS. al-Mujadalah: 11)

Nabi Saw juga memberi kabar gembira bahwa jalan atau usaha yang bersentuhan dengan ilmu akan Allah Swt permudah jalannya menuju surga, Nabi Saw bersabda:

(من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله به طريقا إلى الجنة)

“Barangsiapa yang menumpuh jalan dalam menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga.”

Namun, bagi seorang penuntut ilmu, ada satu hal penting yang harus diperhatikan sebelum menyelam ke dalam luasnya samudera ilmu. Para ulama’ terdahulu sangat menekankan hal ini untuk dipelajari bagi para thâlib al-ilmi (pelajar); yaitu belajar adab sebelum ilmu. Imam dar al-hijrah Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy:

“Wahai anak saudaraku, pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu!”

Ibnu Sirin Ra. berkata:

“كانوا يتعلمون الهدي كما يتعلمون العلم”

“Mereka (para ulama’) mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu”

Dalam konteks ini, Ibnu Sirin Ra mengabarkan tentang para sahabat dan para kibar tabi’in (guru-guru beliau) dalam metode belajar, mereka meposisikan adab seperti ilmu yang porsinya sama untuk dipelajari. Saking pentingnya mempelajari adab sebelum mempelajari suatu disiplin ilmu, Ibnu Mubarok Ra. berkata, “kami mempelajari adab selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Adab adalah perilaku baik berupa ucapan dan perbuatan

Pada zaman sekarang, adab sudah terkikis dari para penuntut ilmu serta perhatian terhadap adab sangat minim, hingga terjadi fenomena yang sering kita dapati ketika berbeda pendapat dalam suatu masalah ijtihadiah yang berujung pada permusuhan antara sesama muslim, dan ini tidak pernah diajarkan oleh para ulama’ terdahulu yang menekankan akan pentingnya adab bagi penuntut ilmu.

Dikisahkan bahwa imam Syafi’i Ra. berkata kepada Yunus As-Shadafi -Abu Musa- Ra. seraya menggandeng tangannya setelah berdebat tentang suatu masalah, “Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara (bersahabat) meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?”

Dalam permasalahan ilmu tentu berbeda pendapat sudah menjadi hal yang lumrah, tetapi sikaplah yang akan mejadikan orang tersebut memiliki wibawa dan pemahaman yang dalam akan ilmu, jika ia memperhatikan adab dalam berbicara dan berperilaku.

Imam Malik ketika diutus ibunya untuk belajar kepada Rabiah bin Abdurrahman, ibunya berpesan, “pelajarilah adabnya sebelum engkau mempelajari ilmunya.”

Dari perkataan hikmah dan kisah para ulama’ di atas sudah cukup bagi kita untuk memahami bahwa pentingnya suatu adab bagi seorang penuntut ilmu. Hal ini (adab) tidak pernah terpisahkan dengan ilmu, orang yang berilmu tanpa adab akan sia-sia, sebagaimana permisalan yang disebutkan oleh Abu Zakaria al-Anbari Ra:

“علم بلا أدب كنار بلا حطب، وأدب بلا علم كروح بلا جسم”

“Ilmu tanpa adab bagaikan api tanpa kayu bakar, sedangkan adab tanpa ilmu bagaikan ruh tanpa jasad.”

Diantara perkara adab yang ditekankan para ulama’ adalah permalasahan niat, sampai sampai Imam Bukhari Ra. meletakan hadits ini pada awal kitab shahihnya, yaitu perkataan Nabi Saw

(إنما الأعمال بالنيات)

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat.”

Abdurrahman bin Mahdi berkata (mengomentari hadits ini), “barang siapa yang ingin memulai penulisan sebuah buku, hendaklah ia memulainya dengan hadits ini, sebagai pengingat bagi thâlib al-ilmi (pelajar) untuk senantiasa memperbarui niat”.

Imam Ibnu Jama’ah asy-Syafi’i Ra. menyusun kitab “Tadzkiratus Sâmi’ wa al-Mutakallim fAdab al-Alim wa al-Muta’allim” membahas tentang adab bagi penuntut ilmu; pelajar maupun pengajar, kitab ini sangat fenomenal bagi penuntut ilmu, pembahasan yang lengkap dan susunan yang rapi membuat kitab ini banyak dikaji oleh para penuntut ilmu. Beliau sangat menekankan tentang permaslahan hati (terutama niat yang ikhlas) pada pembahasan awal setiap babnya. Serta menjelaskan secara detail adab yang terliahat dari penampilan luar maupun yang tersembunyi dari perkara hati. Kitab ini sangat direkomendasikan bagi thalibul ilmi.

Di penghujung tulisan ini, selayaknya bagi kita; untuk selalu mengikuti apa yang nabi ajarkan kepada kita dari amalan, ucapan, maupun sikap. Nabi Saw telah mengajarkan kita suatu doa agar kita dapat terhindar dari adab yang buruk dan akhlak yang tercela. Diriwayatkan oleh imam Tirmizi Ra, Nabi Saw bersabda:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari keburukan akhlak, perbuatan (sia-sia), dan hawa nafsu”

Semoga kita selalu diberikan akhlak yang mulia dan ditunjukan untuk selalu menjaga adab yang baik dengan sesama. Amin.

“علما أن قيمة الإنسان ما يحسنه وأن شرف المرء علمه وأن مرأة عقله أدبه”

“Ketahuilah, bahwa nilai seoarang insan ada pada perbuatan baiknya, dan kemuliannya pada keilmuannya, dan gambaran akal pikirannya pada adabnya.” ( * )


Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Warisan Budaya Indonesia Yang Mendunia